Sunday, March 27, 2011


PUISI BUAT IBU

Ibu

Usiaku kini telah berubah
Aku bukan lagi balita kecil
Kaulah yang telah membentuk jiwa mentah ini
Kaulah yang telah mengelola emosi labil ini
menjadi lokomotif kemajuan
Kaulah yang selalu memberiku keberuntungan
dengan nasihatmu kala malam telah larut
dan gerbang mimpi siap menghampiriku

Kala yang lain terlelap
Kutahu kau tak pernah terlena
Pikiran, hati, jiwa, dan emosiku selalu bekerja demi masa depanku
Kau selalu berpacu dengan waktu
Karena kau yakin, tanpa itu bisa jadi
aku terlindas oleh jaman yang semakin keras

Kaulah pengantar luasnya pengetahuanku
Kala wadah kosa kataku hanya bagai tetesan air
Kaulah yang memenuhinya hingga menjadi sebuah lautan
Kaulah bintang berkilauku
Yang tak akan pernah terlupakan
oleh rangkaian huruf cahaya sejarah peradaban manusia

Andai aku bisa, bunda
Kan kubalas segenap cinta dan kasihmu
Andai aku mampu, bunda
Kan kupersembahkan seterang kilauanmu,
sehangat dekapanmu, setulus kasihmu,
dan sebijak nasihatmu

Kutahu, bunda
Tanganmu tak pernah lepas berharap untukku
dalam setiap do’a yang kau panjatkan
Kutahu bunda
Senyummu selalu menyapa dalam setiap kata cinta
yang keluar dari lisanmu
Kutahu bunda
Mata hatimu selalu terjaga dalam setiap derapku

Ya Allah
Kutengadahkan tanganku berharap
kau membahagiakannya sepertiku kini
Ya Rabbi
Kumemohon berilah bunda mimpi yang selalu indah
Ya Rabbul Izzati
Kuberharap padaMu anugerahkan bunda kecupan hangat
Seperti yang selalu ia berikan padaku saat aku terbangun di pagi hari
Ya Illahi
Sejahterakanlah bunda

Bunda, pelangi dan matahariku
Hari ini kuhaturkan dengan tulus padamu

Monday, March 7, 2011

Mencintai Rasulullah SAW

Assalamu alaika, zain al anbiya-i

(Salam bagimu, wahai hiasan para Nabi)

Assalamu alaika, azkal azkiya-i)

(Salam bagimu, Yang Tersuci dari Orang-orang suci)

....

Anta syamsun, anta badrun, anta nurun fauqa nuuri

(Engkau matahari, bulan purnama, cahaya di atas cahaya)

...

Begitu sebagian untaian shalawat dan syair-syair Maulid yang banyak dibaca di Kalteng/Kalsel, sebagai perwujudan cinta dan pujian kepada Nabi k ita Muhammad SAW. Syair-syair di atas adalah gubahan ulama-ulama terdahulu, yang kemudian ditradisikan oleh umat Islam secara turun temurun.

Sebagian orang menyebutnya sebagai bid'ah, kultus individu, dan lain lain sebutan. Karena memang tidak ada dalam Al-Quran maupun hadis secara tersirat. Padahal syair-syair tersebut hanyalah ungkapan shalawat, pujian, salam, dan kerinduan. Sesuatu yang alami, murni dari para peci nta Rasulullah SAW. Cinta memang tidak bisa hanya cu kup disimpan dalam hati tetapi harus diekspresikan dengan ucapan dan perbuatan. Bagi orang awam (seperti saya), sangat terbantu mengekspresikan cinta kita kepada Rasulullah SAW dengan syair-syair maulid ini. Biarlah orang lain mengatakan bid'ah, bagi kita inilah salah satu ungkapan yang bisa kita berikan kepada insan yang paling mulia, paling suci, paling baik, paling kita rindukan, dan paling kita cintai.

Bukankah Allah SWT sendiri dan para malaikat memberikan salaw at, sebagai penghormatan, terlebih dahulu sebelum menyuruh kita mengucapkan salawat? Bukankah Allah SWT juga memuji Muhammad Rasulullah SAW sebagai yang berakhlaq agung (la'ala khuluqin adziem), suri tauladan yang baik (uswatun khasanah), cahaya (nur), rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin), dan yang belas kasih dan penyayang (raufur rahim)?

Tetapi tentu, tidak hanya dengan pujian dan salawat saja semestinya, bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW. Ada banyak hal y ang akan menambah kualitas cinta kita kepada Insan Utama i ni. Menurut saya, berikut di antaranya:


1. Menjalankan pesan-pesan dan ajaran Rasulullah SAW.

Ada banyak pesan-pesan Rasulullah sebagai kecintaan Rasul kep ada umatnya, yang terhimpun dalam berbagai hadis Nabi. Tentu bukti kecintaan kita adalah dengan menjalankan pesan-pesan itu. Apal agi pesan-pesan itu adalah hal-hal yang memang akan menyelamatkan dan membahagiakan kita di dunia dan akhirat.

'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi), maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu' (QS 3:31)


2.Merindukan bertemu Rasulullah SAW.

Kalau kita mencintai gadis/pria, tentu kita selalu merindukan nya dan ingin bertemu dengannya. Biarpun jauh, penuh rintangan, tentu akan kita lakukan demi kecintaan kita kepadanya. Begitu juga kecintaan kita kepada Rasul. Kita belum pernah bertemu dengannya, namun kita sudah merasakan nikmat karena mengikuti ajarannya. Alangkah senangnya kita jika suatu saat bertemu dengannya. Tentu, kita akan berupaya sekuat tenaga agar bisa berjumpa dengan Rasul kekasih kita.

Suatu ketika salah seorang sahabat Rasul menyatakan cintanya kepada Rasulullah SAW. Rasul menjawab: 'Anta ma'a man ahbabta' (engkau beserta orang yang engkau cintai).


3. Memperbanyak shalawat dan pujian untuk Nabi SAW

Bertolak dari firman Allah SWT:

'Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat kepada Nabi . Wahai orang-orang beriman, bershalawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam ..'

Maka shalawat Nabi banyak diucapkan dimana-mana, paling tidak dalam shalat-shalat kita. Kemudian para ulama menggubah berbagai macam shalawat dan pujian sebagai ungkapan kecintaan kepada Nabi S AW. Shalawat dan pujian inilah yang banyak dibacakan di bul an maulid ini.


4. Mencintai keluarga (ahlul bait) Nabi SAW

Dalam Shahih Muslim, kitab hadis paling valid kedua setelah Bukhari, disebutkan p esan Nabi SAW;

'Aku tinggalkan dua bekal yang berharga (tsaqalain). Pertama adalah Kitabullah, di dalamnya terdapat petunju k dan cahaya. Laksanakanlah Kitabullah itu dan berpega ng teguhlah kepadanya. (Dan berpegang pula) pada Ah lul Baitku. Aku peringatkan kalian tentang ahlul baitku (3x)'

Dalam hadis lain:

'Aku tinggalkan dua perkara yaitu Kitabullah dan keluargaku, keduanya tidak akan berpisah hingga saat menemui ku di Telaga, maka perhatikanlah sikap kalian terhadap mereka' (HR Ahmad, Nasa i, dan Tirmidzi)

Ibn Hajar: dinamakan tsaqalain karena agungnya derajat keduanya.

Dalam Al-Quran (42:23) disebutkan:

'A ku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku, kecuali kecintaan kepada kerabat (al-Qurba)'. Ketika sahabat bertanya, siapakah Al-Qurba ? Rasulullah menjawab: Ahlil baitku

Siapakah Ahlul Bait Nabi SAW?

Nah, disini ada 2 kelompok besar dalam menafsirkannya:

a. Kalangan Ahlus-Sunah

Kalangan Ahlus-Sunah rata-rata memberi makna yang luas dan beragam, mulai dari Ali, Hasan, Husain dan keturunannya, hingga istri-i stri Nabi SAW, keluarga Ja'far, dan Keluarga Abas, serta Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim.

b. Kalangan Syiah

Kalangan syiah (mayoritas) hanya memberi makna Ahlul Bait kepada 12 Imam, yaitu Ali, Hasan, Husain, dan 9 keturunan Husain.

Baik makna sempit atau luas, keduanya bermakna keluarga Nabi. Memang merekalah merupakan salah satu tonggak Islam dal am sejarah. Keluarga Nabi terkenal kesalihannya dan semangat dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, penyebar mula-mula Islam di Indonesia adalah keluarga Nabi.

Kepada para ahlil bait Nabi SAW inilah kita bershalawat dalam setiap shalat. 'Allahumma shali 'ala Muhammad, wa aali Muhammad...'. Kepada mereka pula kita seharusnya ci nta, hormat, dan mengikuti ajaran-ajarannya. Tidak perlu takut kita mengungkapkan kecintaan kepada ahlul bait Nabi, karena itu pesan Rasulullah SAW. Sehingga Imam Syafi'i berujar, 'Jika mencintai Ahl ul Bait disebut Rafidi (Syiah), ketahuilah bahwa saya seorang Rafidi'.


5. Menjaga nama baik Nabi SAW dan umatnya.

Kalau kita mencintai seseorang tentu kita tidak rela jika ora ng tersebut dicaci atau dijelek-jelekkan. Tetapi yang lebih tinggi lagi, kita berusaha menjaga nama baik dengan menjadi t eladan yang baik, sehingga kita ikut membawa nama baik orang yang kita cintai.

Begitu juga kita, tentu harus membela Nabi SAW, jika ada oran g yang mencela Beliau. Namun ada yang lebih tinggi, yai tu menunjukkan kepada dunia bahwa umat Muhammad adalah umat yang mulia, berwib awa dan terhormat. Kalaupun tidak seperti umat Islam terdahulu, minimal tidak menjadi umat yang membawa nama buruk Nabi kita apalagi jika memalukan nama Beliau.

Kita tahu umat Islam terdahulu mampu merubah dari bangsa yang dilihat pun tidak oleh bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa yang berdiri tegak, beradab bahkan menjadi puncak peradaban saat itu. Kini kita mendapati umat Rasulullah tidak dalam posisi mulia. Bangsa mayoritas muslim saat ini identik dengan bangsa miskin, bodoh, t idak tertib, dan yang paling memalukan... bangsa yang paling korup. Dari data statistik, 90% orang miskin ada di Asia & Afrik a, banyak -kalau tidak kebanyakan- dari mereka adalah Muslim.

Padahal umat Islam terdahulu dikenal karena bersemangat baja, tertib, menjaga kehormatan, membela orang-orang lemah dan miskin, menjunjung tinggi ilmu dan menjaga kesucian diri dan harta. Kini harus kita akui bahwa kita harus belajar dari bangsa-bangsa lain, dan terutama nilai-nilai dasar kita dan contoh orang-orang terdahulu yang telah membawa nama baik umat Muhammad SAW.

Kita tentu senang dan bangga, jika Michael H Hart dalam buku yang terkenal menjadikan Nabi Muhammad SAW dalam urutan teratas daftar orang-ora ng yang paling berpengaruh dalam sejarah. Namun kita malu mendapati ban gsa-bangsa muslim terbesar seperti Indonesia, Pakistan, Ban glades adalah diantara bangsa-bangsa paling korup di dunia.

Kita tahu Rasulullah SAW adalah orang yang sangat cinta dan concern dengan umatnya, sehingga digambarkan Allah SWT:

'Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum k alian sendiri. Ia merasakan beratnya penderitaan kalian, sangat mendambakan (keimanan dan keselamatan) kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang beriman' (QS 9:128)

Begitu cintanya Rasul terhadap umatnya sehingga konon diantara ucapan terakhir bel iau adalah 'umatku... umatku..'. Entah bagaimana wajah kita jika ketemu Rasulullah, dan melaporkan 'Ya Rasulullah, kini umatmu sangat banyak, nomor 2 di dunia, lebih dari 800 juta. Ne gara terbesar umatmu adalah Indonesia, lebih dari 180 juta Muslim... Hanya saja, maafkan ya Rasulullah, bangsa ini banyak yang miskin, bodoh, tidak tertib, dan termasuk paling korup di dunia.....'. Entah baga imana pula, perasaan Rasulullah Mulia mendengar ini....


Khatimah

Di bulan Maulid yang mulia ini, marilah kita perdalam kecintaan kita kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wa aalihi wa sal am. Minimal dengan mendendangkan lagi shalawat di rumah-rumah kit a, bukan hanya musik-musik dangdut atau Peterpan. Berikut shalawat yang dulu sering kami senandungkan di langgar-langgar (di Jawa) sebagai puji-pujian. Seiring gerakan modernisme, puji-pujian mulai jarang terdengar...

Allahumma shali wa salim 'alaa sayidina wa maulana Muhammadin. Adada maa bi 'ilmillahi shalatan daimatan bi dawamim mulkillahi...

(Ya Allah sampaikan salawat dan salam untuk junjungan kami Muhammad (dan keluarganya), shalawat sebanyak ilmu Allah, selamanya dengan keabadian kerajaan Allah.)

Mudah-mudahan dengan pernyataan cinta kita kepada Rasulullah SAW ini. Rasulullah menyahut : 'Engkau beserta orang yang engkau cintai'.

Ameen...Ya Rahman

Thursday, February 17, 2011

Apa itu Iman dan Islam?

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Apa definisi Iman itu dan apa perbedaannya antara Iman dan Islam .?”

Jawaban :
Islam dalam pengertiannya secara umum adalah menghamba (beribadah) kepada Allah dengan cara menjalankan ibadah-ibadah yang disyari’atkan-Nya sebagaimana yang dibawa oleh para utusan-Nya sejak para rasul itu diutus hingga hari kiamat.

Ini mencakup apa yang dibawa oleh Nuh ‘Alaihis sallam berupa hidayah dan kebenaran, juga yang dibawa oleh Musa ‘Alaihis sallam, yang dibawa oleh Isa ‘Alaihis sallam dan juga mencakup apa yang dibawa oleh Ibrahim ‘Alaihis sallam, Imamul hunafa’ (pimpinan orang-orang yang lurus), sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam berbagai ayat-Nya yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu seluruhnya adalah Islam kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Sedangkan Islam dalam pengertiannya secara khusus setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ajaran yang dibawa oleh beliau. Karena ajaran beliau menasakh (menghapus) seluruh ajaran yang sebelumnya, maka orang yang mengikutinya menjadi seorang muslim dan orang yang menyelisihinya bukan muslim karena ia tidak menyerahkan diri kepada Allah, akan tetapi kepada hawa nafsunya.

Orang-orang Yahudi adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Musa ‘Alaihis salllam, demikian juga orang-orang Nashrani adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Isa ‘Alaihis sallam. Namun ketika telah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia mengkufurinya, maka mereka bukan jadi orang muslim lagi.

Oleh karena itu tidak dibenarkan seseorang berkeyakinan bahwa agama yang dipeluk oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani sekarang ini sebagai agama yang benar dan diterima di sisi Allah sebagaimana Dienul Islam.

Bahkan orang yang berkeyakinan seperti itu berarti telah kafir dan keluar dari Dienul Islam, sebab Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya Dien yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”. [Ali-Imran : 19].

“Artinya : Barangsiapa mencari suatu dien selain Islam, maka tidak akan diterima (dien itu) daripadanya”. [Ali-Imran : 85]

Islam yang dimaksudkan adalah Islam yang dianugrahkan oleh Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. Allah berfirman.

“Artinya : Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepada nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agamamu”. [Al-Maidah : 3]

Ini adalah nash yang amat jelas yang menunjukkan bahwa selain umat ini, setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihis sallam, bukan pemeluk Islam. Oleh karena itu, agama yang mereka anut tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan memberi manfaat pada hari kiamat. Kita tidak boleh menilainya sebagai agama yang lurus. Salah besar orang yang menilai Yahudi dan Nashrani sebagai saudara, atau bahwa agama mereka pada hari ini sama pula seperti yang dianut oleh para pendahulu mereka.

Jika kita katakan bahwa Islam berarti menghamba diri kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan syari’at-Nya, maka dalam artian ini termasuk pula pasrah atau tunduk kepada-Nya secara zhahir maupun batin. Maka ia mencakup seluruh aspek ; aqidah, amalan maupun perkataan. Namun jika kata Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam berarti amal-amal perbuatan yang zhahir berupa ucapan-ucapan lisan maupun perbuatan anggota badan. Sedangkan Iman adalah amalan batiniah yang berupa aqidah dan amal-amalan hati. Perbedaan istilah ini bisa kita lihat dalam firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Orang-orang Arab Badui itu berkata :’Kami telah beriman’. Katakanlah (kepada mereka) :’Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. [Al-Hujurat : 14].

Mengenai kisah Nabi Luth, Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri”. [Adz-Dzariyat : 35-36].

Di sini terlihat perbedaan antara mukmin dan muslim. Rumah yang berada di negeri itu zhahirnya adalah rumah yang Islami, namun ternyata di dalamnya terdapat istri Luth yang menghianatinya dengan kekufurannya. Adapun siapa saja yang keluar dari negeri itu dan selamat, maka mereka itulah kaum beriman yang hakiki, karena keimanan telah benar-benar masuk kedalam hati mereka.

Perbedaan istilah ini juga bisa kita lihat lebih jelas lagi dalam hadits Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Jibril pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihis sallam mengenai Islam dan Iman. Maka beliau menjawab :”Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah”. Mengenai Iman beliau menjawab :”Engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Utusan-utusan-Nya, hari Akhir, serta beriman dengan qadar yang baik dan yang buruk”.

Walhasil, pengertian Islam secara mutlak adalah mencakup seluruh aspek agama termasuk Iman. Namun jika istilah Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam ditafsirkan dengan amalan-amalan yang zhahir yang berupa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan. Sedangkan Iman ditafsirkan dengan amalan-amalan batiniah berupa i’tiqad-i’tiqad dan amalan hati.

[Disalin dari kitab Fatawa Anil Iman wa Arkaniha, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud, edisi Indonesia Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid, hal 50-52 Pustaka At-Tibyan]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=270&bagian=0

Saturday, February 12, 2011

Alhamdulillah.

Hari ini saya telah dipertemukan dengan laman web yang bermanfaat untuk kita semua. Marilah kita kaji dan fahami Al-Quran yang didalamnya tiada yang diucap selain yang benar belaka.Tiada satu pun keraguan . Saya menyeru kepada semua pembaca untuk cuba memahami Al-Quran dan mengikuti ajaran yang ada didalam kitab suci ini. ALQURAN ialah kitab Allah. ALQURAN ialah firman Allah . bukan ciptaan dan kata kata dari manusia.Yakinlah. Berusahalah untuk mencari kebenaran agar kita bahagia dan berjaya di dunia dan di akhirat.ameen..
klik laman web di bawah ini :

Friday, February 11, 2011

Hayati video ini



MELAYU JADI PLURALIST KERANA TIDAK FAHAM ISLAM


Dalam ceramah bertajuk "Wahdatul Adyan" di salah sebuah masjid di Selangor baru-baru ini, penulis mulakan dengan penjelasan tentang topik "Kedudukan muslim di tengah-tengah bukan muslim" atau dengan kata lain "Pandangan muslim terhadap bukan muslim". Sebenarnya tajuk ini lebih penting daripada membicarakan soal fahaman sesat "Wahdatul Adyan" atau "Pluralisme Agama" yang diasaskan oleh John Hick di Barat. Kalau seseorang muslim benar-benar faham tentang agama Islam yang dianutinya, insya-Allah, masuklah apa jua fahaman pun, dia pasti tidak akan tenggelam atau terpengaruh walau sedikitpun dengan faham-faham tersebut.

Kerana itu, bagi penulis tiada gunanya kita bercakap soal dialog antara agama, toleransi agama, etika beragama, keharmonian beragama dan sebagainya jika kita terlebih dahulu tidak memahamkan umat Islam dengan kedudukannya sebagai penganut Islam di tengah-tengah bukan Islam.

Pertama : Hanya agama yang haq

Perjelaskan kepada anak-anak dan generasi kita mendatang bahawa hanya Islam agama yang benar manakala agama lain adalah batil dan palsu. Firman Allah SWT dalam surah Ali-Imran ayat 19 :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Maksudnya : "Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam".

Penganut agama lain tidak diterima oleh Allah SWT dan mereka di akhirat kelak adalah golongan yang rugi. Firman Allah SWT dalam surah Ali-Imran ayat 85 :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Maksudnya : "Dan barangsiapa yang mencari agama lain selain Islam, maka dia tidak akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat kelak daripada orang yang rugi".

Kedua : Penganut selain Islam adalah kafir dan tiada titik pertemuan di akhirat kelak

Perjelaskan kepada anak-anak dan generasi kita mendatang bahawa penganut bukan Islam adalah kafir. Kafir itu bukan istilah berbentuk cacian atau mencarut seperti khinzir dan sebagainya sebaliknya kafir bermaksud "naqidh al-iman" iaitu "lawan iman" atau "kontra-iman". Itu adalah istilah yang diberikan al-Qur'an bagi membezakan seorang muslim dengan bukan muslim dan seharusnya bukan muslim menghormati doktrin yang terkandung di dalam kitab suci umat Islam.

Di samping itu tiada titik pertemuan akan berlaku antara orang Islam dan orang kafir di akhirat kelak. Seperti yang sering dicanangkan oleh golongan pluralist bahawa kononnya manusia pelbagai agama bersatu pada titik metafiziknya, itu hanya dusta semata-mata. Hakikatnya Islam dan kafir itu amat jauh sekali dan amat pasti tidakkan bertemu di akhirat kelak. Allah SWT berfirman dalam surah al-Bayyinah ayat 6 :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (6) إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (8)

Maksudnya : "Sesungguhnya orang kafir di kalangan ahli kitab dan musyrikin itu di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya dan mereka itu adalah seburuk-buruk kejadian. Sesungguhnya orang yang beriman dan beramal soleh itu, mereka adalah sebaik-baik kejadian. Balasan mereka di sisi Allah adalah syurga-syurga Adnan yang mengalir dibawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, Allah redha terhadap mereka dan mereka redha terhadap-Nya, demikian itu bagi sesiapa yang takut kepada Tuhannya".

Jika di akhirat kelak, yang muslim ke syurga selama-lamanya dan yang kafir ke neraka selama-lama, bagaimana kita mahu katakana di sana ada titik pertemuan?

Ketiga : Segala amalan orang kafir tidak diterima oleh Allah SWT

Amalan perbuatan kebaikan yang dilakukan oleh orang kafir adalah sia-sia dan tidak diterima oleh Allah SWT di akhirat kelak termasuk orang Islam yang murtad keluar dari agama Islam. Oleh itu, sebaik semulia mana akhlak orang kafir di atas dunia, segala amal kebajikan mereka tetap tiada nilai di sisi Allah SWT. Allah berfirman dalam surah al-Nur ayat 39 :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا
Maksudnya : "Dan orang yang kafir itu amalan mereka seperti fatamorgana di atas tanah lapang, orang yang dahaga menyangka ia air, tetapi apabila dia datang kepadanya, dia tidak mendapat sesuatu apa pun".

Keempat : Semua agama-agama lain adalah batil dan tiada kena mengena dengan agama Islam sama sekali

Sesetengah generasi muda terpengaruh dengan dakwaan kononnya ajaran-ajaran agama yang ada pada hari ini semuanya adalah berasal usul daripada nabi-nabi terdahulu. Oleh itu apa yang berlaku agama-agama itu hanyalah satu kelangsungan terhadap apa yang dibawa oleh nabi-nabi tersebut. Kita perlu perjelaskan bahawa kenyataan ini tidak benar sama sekali, yang benar adalah semua nabi terdahulu hanya membawa agama Islam. Ia jelas melalui nas-nas al-Qur'an seperti dalam surah Ali-Imran ayat 67 :

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ


Maksudnya : "Dan tidaklah Ibrahim itu seorang yahudi dan juga nasrani tetapi dia adalah seorang hanif dan muslim dan tidaklah dia dari kalangan musyrikin".

Bagaimana agama tauhid yang dibawa oleh para nabi terdahulu boleh dikaitkan dengan agama-agama batil yang ada pada hari ini? Ini adalah salah satu jarum halus golongan pluralist untuk merosakkan aqidah dan syariah Islam.

Kelima : Wajib 'bara'ah' daripada peribadatan dan kepercayaan agama lain

Allah berfirman dalam surah al-Kafirun ayat 1-6 :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Bermaksud: “Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) yang aku sembah. Dan aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara aku beribadat. Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku”.

Menurut Imam Ibn Kathir, surah ini merupakan surah al-Bara’ah (pelepasan diri) daripada amalan yang diamalkan oleh orang musyrikin. Ayat tiga yang bermaksud “Dan tidaklah aku menyembah apa yang kamu sembah” bermakna aku tidak beribadat dengan ibadat kamu iaitu tidak mengambil jalan itu dan mengikutinya, sebaliknya aku menyembah Allah SWT berdasarkan cara yang disuruh dan diredhainya. Manakala ayat empat yang bermaksud “Dan tidaklah kamu menyembah apa yang aku sembah” bermakna kamu tidak mengikut perintah-perintah Allah SWT dan syariat-Nya dalam beribadat bahkan kamu telah mereka-reka sesuatu daripada diri kamu sendiri.

Oleh itu, kita tidak boleh bersetuju atau turut serta dalam apa jua bentuk doktrin, kepercayaan, syiar, perayaan agama dan peribadatan orang kafir.

Akhirnya, seakrab mana pun kita berkawan atau bersahabat dengan bukan Islam, jika kita sebagai muslim memahami prinsip-prinsip ini insya-Allah kita tidak akan sekali-kali terpengaruh dengan dakyah pluralisme agama atau kesatuan agama bawaan Barat.

Wallahu a'lam.

Kenapa Islam Melarang Melukis Wajah Nabi Muhammad salallahualaihiwassalam.

Pada 30 September lalu, akhbar Denmark, Jyllands-Posten serta akhbar beberapa Negara Barat telah mencetuskan kemarahan umat Islam di seluruh dunia dengan penyiaran beberapa karikatur yang menghina Nabi Muhammad s.a.w. Sebuah akhbar tempatan, Sarawak Tribune yang turut menyiarkan karikatur itu juga telah digantung penerbitannya oleh kerajaan sehingga ke satu tarikh yang akan ditetapkan kemudian.

Berikutan isu yang berlaku ini, masyarakat kembali hangat memperkatakan soal hukum menggambarkan wajah atau tubuh Nabi Muhammad s.a.w. sama ada dalam bentuk lukisan ilustrasi, ukiran patung dan seumpamanya. Di kalangan masyarakat bukan Islam pula, segelintir mereka mempertikaikan soal kerasionalan agama Islam tidak membenarkan lukisan wajah atau jasad Nabi Muhammad s.a.w. Bagi mereka apakah rasionalnya agama Islam menegah umatnya atau orang lain untuk melukis sebarang ilustrasi yang dikaitkan secara langsung kepada Nabi s.a.w.? Adakah agama Islam terlalu bersikap konsorvetif sehingga menghadkan hak kebebasan untuk berfikir dan berkreatif oleh umatnya sendiri? Adakah akidah Islam terlalu rigid sehingga melukis wajah atau jasad Nabi s.a.w. boleh dianggap sebagai sesuatu yang boleh menggelincirkan akidah daripada landasannya yang benar?

Mungkin inilah beberapa kemusykilan dan persoalan yang sering berlegar-legar di minda mereka yang mahukan penjelasan dan kebenaran di sebalik isu yang timbul ini. Golongan bukan beragama Islam di Malaysia boleh jadi bersetuju sekiranya kita mengatakan bahawa karikatur yang menggambarkan wajah dan sifat Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana yang disiarkan oleh beberapa Negara Barat itu adalah sesuatu yang melanggar etika beragama dan memang sepatutnya diharamkan memandangkan ia menyentuh soal sensitiviti beragama yang merupakan suatu hak yang tidak boleh dipertikai, disentuh atau diperkotak-katikkan oleh mana-mana pihak. Sudah menjadi kelaziman setiap bangsa dan Negara di dunia bersepakat untuk mengatakan soal agama adalah sesuatu yang suci dan tidak sekali-kali boleh dijadikan bahan sindiran dan gurauan.

Namun persoalan yang masih wujud, apakah rasionalnya agama Islam tetap tidak membenarkan lakaran gambar Rasulullah s.a.w. dalam apa jua cara dan kaedah? Menjawab pertanyaan ini perkara penting yang harus difahami oleh setiap individu yang ingin melibatkan diri dalam polemik ini iaitu memahami bahawa Islam itu terbahagi kepada dua aspek utama yang saling berkait antara satu dengan lain dan adalah mustahil untuk memisahkan antara kedua-dua aspek ini.

Dua aspek yang dimaksudkan itu ialah akidah dan syariah. Akidah dalam Islam adalah sesuatu yang menjadi pegangan atau kepercayaan umat Islam, secara kasar ia meliputi soal ketuhanan, kenabian dan Hari Akhirat. Manakala syariah pula merupakan suatu sistem perundangan atau cara hidup yang ditetapkan melalui sumber-sumber hukum tertentu yang antara lain bertujuan untuk menjaga kemurnian dan keutuhan akidah umat Islam itu sendiri. Sebagai contoh Islam menetapkan dari sudut akidah bahawa wajib setiap umat Islam mempercayai bahawa Nabi Muhammad s.a.w. adalah seorang rasul, manakala syariah pula menetapkan dan mengukuhkan lagi doktrin kepercayaan ini dengan menegaskan bahawa umat Islam yang memungkiri kepercayaan ini dengan sengaja tanpa sebarang takwilan dan keuzuran harus dijatuhi hukuman tertentu sebagai balasan di atas keengkarannya itu.

Dalam perspektif ini, syariah didatangkan oleh Islam dengan membawa pelbagai metod yang bersifat murunah atau fleksibel bertujuan membendung sebarang gejala yang boleh merendahkan, menghina mahupun merosakkan Islam, apatah lagi perkara yang menyangkut soal akidah dan kepercayaan atau disebut juga keimanan. Oleh itu dalam banyak-banyak metod yang digunakan oleh syariah untuk membendung kerosakan adalah kaedah yang dipanggil sadd al-zari'ah yang bermaksud 'menyekat jalan-jalan kerosakan'. Kaedah ini adalah antara yang terbanyak digunakan sebagaimana yang terdapat di dalam nas-nas syarak yang bertujuan untuk menyekat terlebih dahulu sebarang jalan yang dikhuatiri boleh menjerumuskan umat Islam ke lembah kerosakan dan kemusnahan.

Sebagai contoh, Islam melarang perbuatan zina, larangan ini pula telah diterjemahkan oleh syariah dengan menyediakan batas-batas pergaulan antara lelaki dan wanita malah menetapkan etika berpakaian tertentu yang bertujuan secara umumnya untuk menyekat semua jalan-jalan yang boleh membawa kepada zina. Begitu juga sekiranya kita berbalik kepada soal hukum melukis atau membuat lakaran wajah dan jasad Nabi Muhammad s.a.w., larangan terhadap perbuatan ini mempunyai signifikan tertentu memandangkan ia menyentuh secara langsung terhadap akidah anutan umat Islam itu sendiri dan memberi ruang untuk melakukan perbuatan tersebut ditakuti boleh memudaratkan kepercayaan dan keimanan bahkan melunturkan kesucian akidah Islam.

Pada dasarnya sudah ada hukum yang jelas oleh syariah berkaitan dengan gambar yang dibuat untuk diagung-agungkan atau dikuduskan. Sejarah wathanniyah (keberhalaan) membuktikan bahawa golongan awal telah menghasilkan gambar atau patung bertujuan untuk kenang-kenangan, tetapi kemudiannya sampai ke tahap menguduskan dan menjadikannya sebagai perantaraan untuk beribadah.

Ahli tafsir menjelaskan tentang firman Allah s.w.t. melalui lisan Nabi Nuh a.s., "Dan mereka berkata, "Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa', yaghuts, ya'uq dan nasr" (Nuh: 23), bahawa nama berhala yang disebutkan dalam ayat ini asalnya adalah nama-nama orang-orang soleh, tetapi ketika mereka meninggal dunia, syaitan membisikkan kaum mereka agar membuat patung-patung peringatan di majlis-majlis mereka dan menamakan mereka dengan namanya. Maka kaum itu pun melakukannya. Asalnya ia tidak disembah, tetapi setelah generasi mereka hancur dan ilmu telah dilupakan, ketika itulah patung-patung tersebut disembah.

Dalam hal ini jelas menunjukkan bahawa syarak menegah daripada menggambarkan Nabi Muhammad s.a.w. dalam bentuk lukisan dan sebagainya adalah untuk mengelakkan sebagaimana apa yang terjadi ke atas umat terdahulu sehingga sampai ke peringkat mengagungkan orang-orang suci mereka seumpama beribadah kepada tuhan.

Logika lain pula yang membawa kepada tegahan tersebut adalah dilihat kepada beberapa andaian yang boleh berlaku berdasarkan analisis para ulama Islam seperti berikut:-

a. Mengimaginasikan wajah atau jasad Nabi Muhammad s.a.w. sama ada dalam bentuk watak lakonan mahupun lukisan atau selainnya sekali-kali tidak akan dapat menyamai peribadi sebenar wajah atau jasad Nabi Muhammad s.a.w., oleh itu ia boleh membawa kepada impak pembohongan ke atas Rasulullah s.a.w. dalam bentuk perbuatan kerana pembohongan tidak semestinya dengan lidah semata-mata. Maka pembohongan ke atas rasul adalah sesuatu yang jelas pengharamannya dengan nas hadith sahih yang menyebut: "Barangsiapa yang membohongi aku dengan sengaja, maka tersedialah tempatnya di dalam neraka".

b. Keaiban dan kekurangan yang berlaku disebabkan oleh kelemahan manusia untuk memberikan gambaran sebenar terhadap wajah dan jasad Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana yang dilihat sendiri dengan mata yang sihat adalah merupakan sesuatu yang mencacatkan keperibadian Rasulullah s.a.w. seterusnya dianggap sebagai perbuatan yang menyakitkan Rasulullah s.a.w. Hukum menyakitkan Rasulullah s.a.w. sendiri adalah sangat ditegah dan diharamkan oleh syariat berpandukan firman Allah s.w.t.: "Sesungguhnya orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat serta bagi mereka disediakan azab yang menghinakan". (Surah al-Ahzab: 57)

c. Nabi Muhammad s.a.w. adalah merupakan model ikutan umat baginda, oleh itu mengimaginasikan baginda sehingga membawa kepada kecacatan dan keaiban boleh mencetuskan pandangan atau persepsi yang tidak adil atau menyeleweng terhadap keperibadian Rasulullah s.a.w. bagi umat yang mengikutinya. Sedangkan Allah s.w.t. berfirman dalam al-Qur'an: "Mereka (para nabi) itulah yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dengan petunjuk mereka (para nabi) itu, ikutilah ia". (Surah al-Ahzab: 21)

d. Gambaran atau lukisan yang tidak bertepatan malah mustahil untuk ia bertepatan dengan keperibadian sebenar Nabi Muhammad s.a.w. yang dipamerkan juga boleh mengundang kesangsian umat Islam terhadap keimanan mereka kepada Nabi Muhammad s.a.w. atau sekurang-kurangnya melahirkan rasa hilang hormat terhadap kekudusan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai insan yang sempurna dari sudut akhlak dan kejadiannya. Implikasi yang lebih berat adalah ia boleh menjejaskan kepercayaan umat Islam terhadap Nabi Muhammad s.a.w. sebagai qudwah ikutan serta sumber rujukan umat Islam selepas al-Qur'an.

Selain hujjah-hujjah di atas, keimanan kepada Nabi Muhammad s.a.w. juga merupakan salah satu cabang beriman kepada perkara yang ghaib. Namun ia termasuk dalam kategori ghaib yang tidak mutlak memandangkan Nabi Muhammad s.a.w. hanya ghaib bagi umatnya yang terkemudian dan tidak ghaib bagi para sahabat dan generasi yang sempat hidup dan melihatnya ketika hayat baginda. Oleh itu adalah menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai kerana betapa banyak kesesatan yang wujud pada hari ini adalah berpunca daripada keterlaluan di dalam membicarakan persoalan ghaib.

Perkara ghaib dalam masyarakat Melayu pula sering dianggap sebagai sesuatu yang misteri, mistik, keramat dan sebagainya yang dikhuatiri kesemuanya boleh menjurus kepada kepercayaan khurafat. Membenarkan lukisan wajah atau jasad Nabi Muhammad s.a.w. juga bermakna membuka jalan untuk golongan tertentu melukis serta mengimaginasikan seluruh perkara-perkara ghaib lain yang terdapat di dalam Islam seumpama melukis gambaran Allah, malaikat, syurga, neraka dan selainnya.

Dari sini maka akan timbul pelbagai perkara tahyul dan khurafat yang boleh merosakkan kesucian Islam sedangkan Islam sendiri merupakan agama yang sangat mementingkan fakta, realiti dan kebenaran. Menurut kesimpulan takrifan khurafat yang dibuat oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) di dalam buku Garis Panduan, Bahan Penerbitan Bercetak dan Audio Visual JAKIM, khurafat ialah sesuatu perkara mempesonakan berbentuk rekaan atau dongeng (legenda) yang karut yang menyimpang dari ajaran Islam sedangkan tahyul pula iaitu semua cerita sama ada khayalan atau rekaan yang meliputi cerita-cerita yang mempesonakan dan bercampuraduk dengan perkara-perkara yang dusta.

Bertolak dari penjelasan ini kita boleh membuat konklusi bahawa membenarkan imaginasi lukisan atau gambaran Rasulullah s.a.w. secara langsung atau tidak langsung boleh menjurus kepada memasukkan unsur-unsur khurafat, tahyul dan khayalan ke dalam akidah Islam seterusnya ini sedikit demi sedikit akan menghakis sifat Islam sebagai agama yang bersih daripada dongengan, lebih-lebih lagi ia akan merosakkan sistem tathabbut iaitu memastikan setiap apa yang disandarkan kepada agama itu adalah betul-betul benar seperti yang disusun oleh para ulama seumpama dalam metodologi ilmu hadith dan ilmu usul fiqh.

Berasaskan dalil-dalil dan hujjah-hujjah yang dibentangkan di atas maka kita dapati bahawa para ulama Islam serta beberapa institusi Islam terkemuka telah mengumumkan fatwa pengharaman menghasilkan lukisan atau apa-apa gambaran berbentuk imej Rasulullah s.a.w.. Antaranya adalah fatwa Syeikh Hasnain Makhluf pada bulan Mei 1950 dalam kitab al-Fatawa al-Islamiyyah, jilid 4, mukasurat 1297, Lajnah Fatwa al-Azhar pada bulan Jun 1968, Majlis Majma' Buhuth al-Islamiyyah pada bulan Februari 1972 dan Majlis Majma' al-Fiqh al-Islami Makkah kali ke-8 pada tahun 1405 hijrah.

Pengharaman ini adalah bertitik tolak daripada pendirian para ulama Islam yang mahu menjaga kepentingan Islam serta penganut agama Islam itu sendiri dan ia telah dijelaskan berpandukan hujjah-hujjah naqli (al-Qur'an dan al-Sunnah) dan aqli atau rasional pemikiran manusia. Namun sekiranya masih kedapatan mereka yang masih mempertikaikan keputusan tersebut, itu bukanlah timbul kerana kepincangan hujjah-hujjah di atas tetapi sekadar sifat manusia yang tidak pernah puas serta tidak tahu menghormati kepercayaan orang lain ditambah pula dengan ketegaran untuk tidak memahami keutamaan keharmonian beragama di Negara ini.

Wednesday, February 9, 2011

Haram Merayakan Valentine's Day

Fenomena perayaan Valentine's Day tidaklah terlalu asing di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Para remaja, walau baru kelas satu SMP, sudah mengenal budaya setan ini. Mereka biasa merayakannya dengan mengadakan lomba saling merayu antara lawan jenis, saling memberikan bunga dan hadiah kepada pacarnya, mengadakan pesta musik yang terkadang disertai minuman keras tanpa mempedulikan terjadinya percampuran pria dan wanita non-mahram. Bahkan, acara ini oleh mereka dijadikan ajang untuk mengekspresikan hawa nafsu kepada lawan jenis, misalnya mencium pipi, memegang tangan, sampai melakukan perbuatan yang kelewat batas, naudzu billahi min dzalik. Lucunya, perayaan ini pun rupanya tidak hanya dilakukan oleh anak muda. Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan tante-tante pun tidak ketinggalan 'bertaklid' merayakan budaya sesat ini.

Lebih memprihatinkan lagi, budaya ini telah menjarah remaja Islam, remaja yang diwanti-wanti oleh Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam untuk selalu mengikat perilakunya dengan ajaran Islam dan tidak membebek kepada cara hidup orang kafir, malah larut dalam perayaan jahiliah ini dengan meninggalkan akidah Islam.

Budaya perayaan Valentine's Day telah menjarah remaja Islam . . .membebek kepada cara hidup orang kafir dalam perayaan jahiliah ini dengan meninggalkan akidah Islam.

Mereka yang melakukan perayaan ini berdalih dengan kasih sayang. Padahal, pesta semalam suntuk dalam rangka ber-Valentine's Day diikuti dengan perbuatan dan tindakan yang bertentangan dengan moral dan agama (khususnya agama Islam) tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. Kasih sayang yang dilahirkannya hanyalah kasih sayang semu dan palsu. Bukan kasih sayang, mungkin lebih tepat disebut hawa nafsu.

Ber-Valentine's Day tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. . . Bukan kasih sayang, mungkin lebih tepat disebut hawa nafsu.

Sejarah Singkat Valentine's Day

Valentin, atau Valentinus yang di Indonesia beberapa waktu terakhir ini mulai dipopulerkan secara luas dengan istilah Valentin (tanpa e atau huruf s) sebetulnya nama seorang martir (orang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya). Valentin yang sebenarnya adalah nama seorang tokoh agama Kristen yang karena kesalehan dan kedermawanannya diberi gelar Saint atau Santo disingkat dengan St., yang mempunyai tempat istimewa di dalam ajaran agama ini. Panggilan atau gelar ini dilekatkan pula kepada tokoh Kristen yang lainnya, seperti St. Paul, St. Peter, St. Agustine dan sebagainya. St. hanya dihubungkan dengan nama seorang penganjur dan pemimpin besar agama Kristen, dan karena itu tidak dapat diberikan kepada sembarang pemeluk agama ini, yang tingkat keagamaannya masih rendah.

St. Valentin ini karena pertentangannya dengan Kaisar CLAUDIUS II, penguasa Romawi pada waktu itu, berakhir dengan pembunuhan atas dirinya pada abad ketiga, tepatnya pada tanggal 14 Februari tahun 270 Masehi. Menurut kepercayaan Kristen, kematian Valentin ini dikategorikan martir membela agamanya, sebagaimana orang Islam menyebut syahid bagi seorang muslim yang terbunuh di medan jihad.

Kematian yang tragis, kesalehan, dan kedermawanan Valentin ini tidak dapat dilupakan oleh para pengikutnya di belakang. Valentine dijadikan simbol bagi ketabahan, keberanian, dan kepasrahan seorang Kristen menghadapi kenyataan hidupnya. Namanya dipuja dan diagungkan dan hari kematiannya diperingati oleh pengikutnya dalam setiap upacara keagamaan yang dianggap sesuai dengan peristiwa tragis itu. Upacara peringatan yang pada mulanya bersifat religius itu dimulai pada abad ketujuh Masehi dan berlangsung sampai abad keempat belas, dan setelah abad itu signifikansi keagamaannya mulai hilang dan tertutup oleh upacara dan ceremony yang non-agamis.

Hari Valentin, sebagaimana dikatakan di atas, adalah hari kematian Valentine yang kemudian diperingati oleh para pengikutnya setiap tanggal 14 Februari. Kemudian hari Valentine ini dihubungkan pula dengan pesta atau perjamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut supercalia yang biasanya jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang Romawi masuk Kristen, maka pesta supercalia itu secara religius dikaitkan dengan kematian atau upacara kematian St. Valentine.

Penerimaan Valentine sebagai model kasih sayang tulus diduga seperti berasal dari kepercayaan orang Eropa, bahwa masa kasih sayang mulai bersemi bagi burung jantan dan burung betina pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Perkiraannya atau kepercayaannya ini lalu berkembang menjadi pengertian umum bahwa sebaiknya pihak pemuda mencari seorang pemudi (wanita) untuk menjadikan pasangannya dan sebaliknya pada tanggal tersebut. Bersamaan dengan itu, mereka menyarankan untuk saling tukar tanda mata atau cadeau (kado) sebagai lambang terbinanya kasih sayang di antara mereka. Namun, Valentine ini lebih dipopularkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I.

Valentine ini lebih dipopularkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I.

Hukum Merayakan Valentine's Day

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikiran. Apalagi, bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syiar dan kebiasaan. Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya, "Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR At-Tirmizi).

Abu Waqid meriwayatkan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat keluar menuju Perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, 'Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.' Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian'." (HR At-Tirmizi, ia berkata, hasan sahih).

Berkasih-sayang versi valentinan ini haruslah diketahui terlebih dahulu hukumnya, lalu diputuskan apakah akan dilaksanakan atau ditinggalkan. Dengan melihat dan memahami asal-usul serta fakta pelaksanaan Valentine's Day, sebenarnya perayaan ini tidak ada sangkut pautnya sedikit pun dengan corak hidup seorang muslim. Tradisi tanpa dasar ini lahir dan berkembang dari segolongan manusia (kaum/bangsa) yang hidup dengan corak yang sangat jauh berbeda dengan corak hidup berdasarkan syariat Islam yang agung.

Sangat jelas bahwa Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya. Kita dilarang menyerupai budaya yang lahir dari peradaban kaum kafir, yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah Islam. Sungguh, ikut merayakan hari valentin adalah tindakan haram dan tercela.


Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, "Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya" dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid'ah, atau kekufuran. Padahal, dengan itu ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala."

. . . Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram . . . .

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine's Day mengatakan, "Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena alasan berikut. Pertama, ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat Islam. Kedua, ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf saleh (pendahulu kita)--semoga Allah meridhai mereka. Maka, tidak halal melakukan ritual hari raya mereka, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah, ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup) yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan semoga meliputi kita semua dengan bimbinga-Nya."

Mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 51).

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-Mujadilah: 22)

Mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam surga yang hamparannya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadis Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya, "Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, saling berkorban karena Aku, dan yang saling mengunjungi karena Aku." (HR Ahmad). Wallahu a'lam.

Sumber:

1. The standart International Dictionary, jilid 18 halaman 5090. The Encyclopedia Americana, jilid 27 halaman 859. (dari www.isnet.org/archive-milis/archive99).
2. Valentine's Day Bukan Ajaran Islam, Drs. Nur'i Yakin Mch, SH, M.Hum.
3. www.alsofwah.or.id
4. www.hidayatullah.com
[PurWD/voa-islam.com]

Monday, February 7, 2011

Kisah Rasulullah SAW dan Yahudi Pencuri

Seorang Yahudi mencuri di pasar, semua berusaha mengejar pencuri itu. Rasulullah SAW baru saja datang ke pasar, Beliau SAW melihat seorang Yahudi dikejar oleh banyak orang. Rasulullah SAW ikut mengejar Yahudi itu. Rasulullah berfikir apabila Yahudi ini tidak memiliki kalimah Laailaahaillallaah maka ia akan celaka dan sengsara selama-lamanya. Si Yahudi pencuri itu berlari sangat cepat semua orang tidak ada yang sanggup mengejarnya kecuali Rasulullah SAW. Pencuri itu terus lari dan Rasulullah SAW terus mengejarnya. Akhirnya pencuri itu kelelahan ia berhenti berlari. Rasulullah SAW pun mendapatkannya. Pencuri itu dengan tersengal-sengal bertanya kepada Rasulullah SAW, siapakah engkau?". Aku Rasulullah (SAW), engkau ucapkanlah Laailaahaillallaah pasti engkau akan mendapat kejayaan, jawab Rasulullah SAW. Pencuri itu berkata lagi, kalau engkau bukan seorang Nabi pasti engkau tidak akan dapat mengejarku, maka aku bersaksi di hadapanmu tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya.

Kisah Rasulullah SAW dan Pengemis Yahudi Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a

Makna/Maksud Bacaan Dalam Solat.

Doa Iftitah
Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah dengan banyaknya.
Maha suci Allah sepanjang pagi dan petang.
Aku hadapkan wajahku bagi Tuhan yang mencipta langit dan bumi,
dengan suasana lurus dan berserah diri dan aku bukan dari golongan orang musyrik.
Sesungguhnya solatku,
Ibadatku,
hidupku,
matiku
adalah untuk Allah Tuhan sekelian alam.
Tidak ada sekutu bagiNya dan kepadaku diperintahkan untuk tidak
menyekutukan bagiNya dan aku dari golongan orang Islam.

Al-Fatihah
Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Mengasihani.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Yang maha pemurah lagi maha mengasihani.
Yang menguasai hari pembalasan.
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Iaitu jalan orang-orang yang Engkau kurniakan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan jalan mereka yang sesat.

Bacaan ketika rukuk
Maha Suci TuhanKu Yang Maha Mulia dan dengan segala puji-pujiannya.

Bacaan ketika bangun dari rukuk
Allah mendengar pujian orang yang memujinya.

Bacaan ketika iktidal
Wahai Tuhan kami, bagi Engkaulah segala pujian.

Bacaan ketika sujud
Maha suci TuhanKu yang Maha Tinggi dan dengan segala puji-pujiannya.

Bacaan ketika duduk di antara dua sujud
Ya Allah, ampunilah daku,
Rahmatilah daku,
kayakan daku,
angkatlah darjatku,
rezekikan daku,
berilah aku hidayah,
sihatkanlah daku dan
maafkanlah akan daku

Bacaan ketika Tahiyat Awal
Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah.
Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta
keberkatannya.
Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh.
Aku naik saksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku naik saksi bahawasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah.
Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad.

Bacaan ketika Tahiyat Akhir
Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah.
Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya.
Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh.
Aku naik saksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku naik saksi bahawasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah..
Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya.
Sebagaimana Engkau selawatkan ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim.
Berkatilah ke atas Muhammad dan atas keluarganya sebagaimana Engkau berkati ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim di dalam alam ini.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

Doa Qunut
Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau tunjuki.
Sejahterakanlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau sejahterakan.
Pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin.
Berkatilah hendaknya untukku apa-pa yang telah Engkau berikan padaku.
Jauhkanlah aku daripada segala kejahatan yang telah Engkau tetapkan.
Sesungguhnya hanya Engkau sahajalah yang menetapkan, dan tidak sesiapapun yang berkuasa menetapkan sesuatu selain daripada Engkau.
Sesungguhnya tidak terhina orang yang memperolehi pimpinanMu.
Dan tidak mulia orang-orang yang Engkau musuhi.
Telah memberi berkat Engkau, ya Tuhan kami dan maha tinggi Engkau.
Hanya untuk Engkau sahajalah segala macam puji terhadap apa-apa yang telah Engkau tetapkan.
Dan aku minta ampun dan bertaubat kepada Engkau.
Dan Allah rahmatilah Muhammad, Nabi yang ummi dan sejahtera keatas keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

“wahai tuhan ku,aku tak layakutk kesyurgamu …namun tak pula aku sanggup
keNerakamu.. ..kami lah hamba yang mengharap belaskasihan darimu .”ya allah
jadikan lah kami hamba2 mu yang bertaqwa..ampunkan dosa2 kami .kedua
ibubapa kami .dosa semua umat2 islam yang masih hidup mahupun yang telah meninggal
dunia”


Sunday, February 6, 2011

ALLAH ITU MAHA ESA! TIDAK MENJELMA SEBAGAI MANUSIA

a

Saya mengambil masa yang agak lama untuk mengulas isu ini. Betul, ia sekadar isu penggunaan nama 'Allah' oleh penganut Kristian yang boleh dianggap kecil, tetapi ia sebenarnya membawa kesan yang besar dan pelbagai.

Pendapat demi pendapat diberikan, ditulis, dibahaskan dan menjadi polemik. Bantahan dibuat oleh masyarakat Islam. Ada yang berucap berapi-api seolah-olah dialah pembela Allah dan pembela agama Allah selama ini, sedangkan hakikatnya, terlalu banyak perintah Allah yang terkandung dalam al-Quran disimpan elok-elok sahaja dalam mashaf al-Quran, dimuliakan, tetapi tidak dilaksanakan dalam kehidupan. Perundangan syariah diguna pakai sebahagian dan dipekasamkan sebahagian lagi. Perjuangan pula tidak jelas meletakkan Islam sebagai dasar.

Di suatu pihak yang lain, ada juga umat Islam yang memandang isu ini dari sisi dakwah. Mereka berpandangan tiada salahnya orang bukan Islam menggunakan nama Allah sebagai tuhan mereka, sementelahan yang menggunakannya pula penganut agama samawi (langit). Agama samawi iaitu Islam, Yahudi dan Nasrani (Kristian) berasal daripada Allah yang Maha Esa. Bagaimanapun, umat Yahudi dan Kristian menyeleweng dari jalan yang benar. Yahudi menganggap Uzair sebagai anak Tuhan manakala Nasrani menganggap Isa sebagai anak Tuhan. Kristian percaya kepada konsep triniti iaitu tuhan tiga dalam satu dan satu dalam tiga - Allah, Isa dan roh yang suci (Jibril?). Walau apa pun hujahnya, kedua-dua agama ini telah sesat kerana menyekutukan Allah.

Mengambil kira pandangan kedua-dua pihak, yang menentang dan juga menyokong penggunaan kalimah Allah oleh orang Kristian itu, mari kita cuba halusi perkara ini.

aIsu ini bermula apabila KDN memberi kebenaran kepada akhbar tabloid The Herald: Catholic Weekly untuk diterbitkan pada tahun 2009 dengan syarat penulisannya tidak menggunakan kalimah Allah dan pengedarannya dihadkan kepada penganut Kristian sahaja.

Penerbit The Herald: Catholic Weekly mencabar arahan KDN tersebut di mahkamah. Pada 31 Disember 2009, Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur memutuskan arahan KDN terbatal (null and void) dan turut membenarkan kalimah Allah digunakan oleh The Herald, dan kalimah Allah tidak juga eksklusif untuk Islam sahaja. Keputusan ini dirayu dan pelaksanaannya ditangguhkan.

Antara ulasan yang menarik perhatian saya dalam isu ini ialah pendapat yang dikemukakan oleh bekas Profesor Madya Fakulti Syariah, Akademi Islam, Universiti Malaya, Ustaz Alias Othman. Menurutnya, nama Allah memang telah digunakan lama sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Bagaimanapun, penggunaannya sebelum dan selepas kedatangan Islam tidak menimbulkan masalah kepada orang-orang Arab. Budaya setempatnya begitu. Tetapi di Malaysia, nama Allah telah digunakan oleh orang Islam untuk merujuk kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebarang percubaan untuk mengaitkannya dengan fahaman ketuhanan lain, sebagaimana fahaman Kristian misalnya, hanya akan menimbulkan kemudaratan kepada kedua-dua pihak. Jadi, lebih baiklah penggunaannya dihalang kerana menolak yang mudarat itu lebih utama.

Benarkah penganut Kristian merujuk kalimah Allah sebagai nama tuhan mereka? Pensyarah di Jabatan Akidah dan Pemikiran Islam, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Profesor Madya Dr Khadijah Mohd Hambali, dalam satu tulisannya mengatakan bahawa jika ajukan soalan ini kepada sesiapa sahaja dalam kalangan penganut Kristian termasuk para paderi, nescaya pelbagai jawapan akan terpacul dari mulut mereka. Sebahagian daripada mereka akan merujuk kepada Jesus atau Yesus (Indonesia) sebagai tuhan, sebahagian lagi merujuk kepada Jeremiah manakala segolongan lagi merujuk kepada Allah. Terdapat juga penganut Kristian yang merujuk kepada Yahweh, Yehuwa, Yahova atau Jehovah. Ini kerana tidak terdapat satu pun istilah yang menepati dan merujuk kepada tuhan dalam Bible penganut Kristian. Bible mereka yang terlalu kerap disunting tidak memaparkan nama tuhan yang wajar disebut dalam ritual keagamaan Kristian.

Justeru, untuk mengelakkan kesukaran dan kekeliruan, penganut Kristian mengambil keputusan untuk meminjam nama Tuhan yang sering digunakan oleh masyarakat setempat. Sebagai contoh yang diperakui sendiri oleh para pemimpin Kristian Malaysia, antaranya Joseph Masilamany yang mengemukakan pendapat bahawa “penggunaan perkataan 'Allah' untuk merujuk kepada Tuhan dalam kalangan penganut agama Kristian telah diamalkan dengan meluas untuk beberapa generasi di banyak negara dan bukan bertujuan menyinggung perasaan atau mengelirukan masyarakat Islam.”

Ada udang di sebalik batu? Kelihatannya begitulah. Lagipun yang sibuk-sibuk hendak digunakan perkataan 'Allah' itu adalah penulisan-penulisan mereka dalam bahasa Melayu. Penulisan dalam bahasa Inggeris masih mengekalkan kata 'God' dan 'Lord'.

Benarkaah Allah di hati mereka? Ketika kita hangat membahaskan isu ini di Malaysia, tiba-tiba pada Selasa, 12 Januari yang lepas, dunia dikejutkan dengan gempa bumi besar bermagnitud 7.0 di Haiti yang diberitakan telah mengorbankan lebih 100,000 nyawa. Pada detik-detik awal bumi Port-au-Prince, ibu kota Haiti bergegar, penduduk yang majoritinya beragama Kristian lari bertempiaran sambil menjerit "Jesus, Jesus!" Jeritan ini spontan, dalam keadaan kelam kabut dan di bawah sedar. Yang keluar dari mulut mereka adalah nama 'Jesus' bukannya 'Allah'. Kita faham nama Jesus paling kerap dirujuk oleh penganut Kristian sebagai tuhan, sebab itulah Jesus yang diseru. Tetapi apabila mereka berkeras hendak menggunakan nama Allah juga, kita tidak boleh mengelak daripada menghidu bahawa mereka memang punya agenda tersembunyi.

Bagaimanapun, janganlah kita terlupa bahawa isu ini membuka peluang yang besar kepada umat Islam untuk lebih aktif berdakwah kepada mereka yang belum Islam. Kalau mereka mengatakan bahawa mereka pun percayakan Allah, kita katakan bahawa terdapat perbezaan yang sangat besar antara percaya dengan beriman kepada Allah, bahawa mereka mesti kembali kepada jalan asal yang benar iaitu Allah Maha Esa, tidak beranak dan tidak pula diberanakkan. Inilah peluang kita untuk menerangkan kepada mereka tentang Allah dan Islam. Jangan risau kita tidak mampu melakukan dakwah ini. Islam adalah agama yang benar dan Islam pasti menang dengan bantuan Allah. Yang penting bagi umat Islam adalah mengatur strategi berkesan, berusaha, berdoa dan bergerak dalam satu saf.

Namun, dalam masa kita berusaha untuk berdakwah kepada golongan ini, jangan lupa bahawa mereka juga sentiasa berusaha tanpa henti untuk menyesatkan umat Islam menerusi dakyah mereka. Dulu saya juga berfikir apa salahnya mereka menggunakan nama Allah? Bukankah Allah Tuhan semua makhluk? Apa hak kita untuk menghalang mereka? Kenapa kita seolah-olah tidak membenarkan mereka mengakui Allah, bahkan seolah-olah mahu mereka kekal dalam kesesatan mereka? Begitulah soalan-soalan yang bermain di fikiran, sampailah satu hari saya terbaca e-mel seorang sahabat yang pernah tinggal dan belajar di sebuah negara jiran selama lebih lima tahun, menceritakan beberapa peristiwa yang lucu tetapi sangat serius.

Pengalaman ini beliau kongsikan supaya orang ramai boleh mengetahui dan membayangkan implikasinya jika penggunaan nama Allah oleh orang bukan Islam dibiarkan. Suatu hari sahabat ini menonton sebuah program ceramah di televisyen. Beliau sangkakan ia ceramah agama biasa kerana dengan semangat yang berkobar-kobar, si penceramah berkata, "Kita semua sudah berdosa! Allah Maha Kuasa! Allah Maha Penyayang! Kembalilah kita semua ke jalan Allah!" Di dalam hati, sahabat tadi mengucap syukur, alhamdulillah... bagus. Tiba-tiba penceramah menyambung "Kembalilah kepada Yesus Kristus dan Bunda Maryam!" Laa... ceramah Kristian rupanya.

Dalam surat khabar, biasanya ada ruangan untuk mengucapkan kata-kata takziah dan doa untuk orang yang telah meninggal dunia. Disebutkan, "Telah Kembali ke Rahmat Allah, Sdr ... pada ... Semoga roh beliau dicucuri rahmat Allah" Tetapi apabila diperhatikan, nama-nama mereka yang mati itu adalah Eduardus, Kristus, Paulus dan sebagainya (nama orang Kristian). Ada pula gambar salib diikuti tulisan kecil "ash to ash, dust to dust, fade to black".

Suatu hari sewaktu sedang bermusafir dan mencari masjid untuk solat, beliau ternampak sebuah papan tanda yang memaparkan kalimah Allah dalam bahasa Arab. Di sisinya ada sebuah sepanduk berbunyi, "Ayuh, kerjakan kewajipan kita kepada Allah dan agamanya!" Apabila beliau menyusuri jalan mengikut arah yang ditunjukkan, beliau terkejut melihat bangunan yang dimaksudkan mempunyai patung Jesus disalib. Gereja Kristian rupanya!

aJika berhasrat hendak membeli buku agama juga, kita harus berhati-hati. Sahabat tadi pernah membelek sebuah buku yang tajuknya lebih kurang begini, "Memantapkan Iman Anda kepada Allah". Apabila beliau menyelak helaian demi helaian, beliau mula keliru kerana ayat-ayat dan hadisnya tidak seperti biasa. Direnung-renung balik, rupa-rupanya ayat-ayat tersebut dikutip dari Bible! Ah, buku dakwah Kristian rupanya!

Seperkara lagi, di tengah-tengah sebuah bandar, terdapat sebuah geraja yang dinamakan "Rumah Allah". Ada pula gereja yang mempamerkan kata-kata dengan tulisan besar, "ALLAH ITU KASIH". Dan kita percaya banyak lagi 'benda' yang boleh menimbulkan kekeliruan yang menggunakan nama Allah di sana. Bagaimana kalau perkara seperti ini berlaku di Malaysia? Apa bentengnya untuk anak-anak kita dan untuk orang dewasa juga, dalam keadaan iman kita senipis kulit bawang?

Kita mesti faham bahawa Tuhan untuk semua manusia baik Islam, Kristian, Yahudi, Buddha mahupun Hindu, bahkan untuk semua makhluk sememangnya Allah, tidak ada yang lain. Allah yang menjadikan alam ini.Tetapi apabila menyentuh soal iman, keimanan orang Islam terhadap Allah berbeza dengan orang Kristian atau Yahudi. Mereka tidak ada iman pun terhadap Allah. Kalau mereka beriman, sudah lama mereka menjadi Muslim.Orang Islam tidak menyembah Allah seperti mana orang Kristian kononnya mempertuhankan Allah, dan begitu pula yang sebaliknya. Sebab itu Allah menyuruh kita menegaskan kepada orang-orang kafir, "Untuk kamu agama kamu dan untukku agamaku."

aSaya sangat menyokong usaha sebuah stesen radio Islam akhir-akhir ini yang setiap hari berulang kali menyiarkan bacaan ayat-ayat al-Quran surah al-Ikhlas dan al-Kafirun serta terjemahannya. Surah-surah ini menyegarkan kembali pegangan kita bahawa Allah itu Maha Esa, tiada dua atau tiganya, Maha Suci Dia daripada beranak atau diperanakkan dan Allah selama-lamanya tidak boleh disamakan dengan apa jua makhluk.

Walau apa pun perkembangannya, sikap umat Islam dalam menghadapi kemelut ini mestilah betul. Jangan membantah dan berdemonstrasi berdasarkan emosi semata-mata. Kita menentang penggunaan nama Allah oleh bukan Islam ini kerana bimbang nama yang mulia itu akan diperhina dan disekutukan sewenang-wenangnya. Tetapi kita juga menegaskan bahawa umat Islam bukan sekadar mempertahankan nama Allah, tetapi mempertahankan hak agama dan syariat Allah agar ia dilaksanakan sepenuhnya di atas muka bumi sebagaimana yang dikehendaki oleh pemilik nama Allah itu!