Friday, February 11, 2011
Kenapa Islam Melarang Melukis Wajah Nabi Muhammad salallahualaihiwassalam.
Wednesday, February 9, 2011
Haram Merayakan Valentine's Day
Fenomena perayaan Valentine's Day tidaklah terlalu asing di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Para remaja, walau baru kelas satu SMP, sudah mengenal budaya setan ini. Mereka biasa merayakannya dengan mengadakan lomba saling merayu antara lawan jenis, saling memberikan bunga dan hadiah kepada pacarnya, mengadakan pesta musik yang terkadang disertai minuman keras tanpa mempedulikan terjadinya percampuran pria dan wanita non-mahram. Bahkan, acara ini oleh mereka dijadikan ajang untuk mengekspresikan hawa nafsu kepada lawan jenis, misalnya mencium pipi, memegang tangan, sampai melakukan perbuatan yang kelewat batas, naudzu billahi min dzalik. Lucunya, perayaan ini pun rupanya tidak hanya dilakukan oleh anak muda. Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan tante-tante pun tidak ketinggalan 'bertaklid' merayakan budaya sesat ini.
Lebih memprihatinkan lagi, budaya ini telah menjarah remaja Islam, remaja yang diwanti-wanti oleh Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam untuk selalu mengikat perilakunya dengan ajaran Islam dan tidak membebek kepada cara hidup orang kafir, malah larut dalam perayaan jahiliah ini dengan meninggalkan akidah Islam.
Budaya perayaan Valentine's Day telah menjarah remaja Islam . . .membebek kepada cara hidup orang kafir dalam perayaan jahiliah ini dengan meninggalkan akidah Islam.
Mereka yang melakukan perayaan ini berdalih dengan kasih sayang. Padahal, pesta semalam suntuk dalam rangka ber-Valentine's Day diikuti dengan perbuatan dan tindakan yang bertentangan dengan moral dan agama (khususnya agama Islam) tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. Kasih sayang yang dilahirkannya hanyalah kasih sayang semu dan palsu. Bukan kasih sayang, mungkin lebih tepat disebut hawa nafsu.
Ber-Valentine's Day tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. . . Bukan kasih sayang, mungkin lebih tepat disebut hawa nafsu.
Sejarah Singkat Valentine's Day
Valentin, atau Valentinus yang di Indonesia beberapa waktu terakhir ini mulai dipopulerkan secara luas dengan istilah Valentin (tanpa e atau huruf s) sebetulnya nama seorang martir (orang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya). Valentin yang sebenarnya adalah nama seorang tokoh agama Kristen yang karena kesalehan dan kedermawanannya diberi gelar Saint atau Santo disingkat dengan St., yang mempunyai tempat istimewa di dalam ajaran agama ini. Panggilan atau gelar ini dilekatkan pula kepada tokoh Kristen yang lainnya, seperti St. Paul, St. Peter, St. Agustine dan sebagainya. St. hanya dihubungkan dengan nama seorang penganjur dan pemimpin besar agama Kristen, dan karena itu tidak dapat diberikan kepada sembarang pemeluk agama ini, yang tingkat keagamaannya masih rendah.
St. Valentin ini karena pertentangannya dengan Kaisar CLAUDIUS II, penguasa Romawi pada waktu itu, berakhir dengan pembunuhan atas dirinya pada abad ketiga, tepatnya pada tanggal 14 Februari tahun 270 Masehi. Menurut kepercayaan Kristen, kematian Valentin ini dikategorikan martir membela agamanya, sebagaimana orang Islam menyebut syahid bagi seorang muslim yang terbunuh di medan jihad.
Kematian yang tragis, kesalehan, dan kedermawanan Valentin ini tidak dapat dilupakan oleh para pengikutnya di belakang. Valentine dijadikan simbol bagi ketabahan, keberanian, dan kepasrahan seorang Kristen menghadapi kenyataan hidupnya. Namanya dipuja dan diagungkan dan hari kematiannya diperingati oleh pengikutnya dalam setiap upacara keagamaan yang dianggap sesuai dengan peristiwa tragis itu. Upacara peringatan yang pada mulanya bersifat religius itu dimulai pada abad ketujuh Masehi dan berlangsung sampai abad keempat belas, dan setelah abad itu signifikansi keagamaannya mulai hilang dan tertutup oleh upacara dan ceremony yang non-agamis.
Hari Valentin, sebagaimana dikatakan di atas, adalah hari kematian Valentine yang kemudian diperingati oleh para pengikutnya setiap tanggal 14 Februari. Kemudian hari Valentine ini dihubungkan pula dengan pesta atau perjamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut supercalia yang biasanya jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang Romawi masuk Kristen, maka pesta supercalia itu secara religius dikaitkan dengan kematian atau upacara kematian St. Valentine.
Penerimaan Valentine sebagai model kasih sayang tulus diduga seperti berasal dari kepercayaan orang Eropa, bahwa masa kasih sayang mulai bersemi bagi burung jantan dan burung betina pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Perkiraannya atau kepercayaannya ini lalu berkembang menjadi pengertian umum bahwa sebaiknya pihak pemuda mencari seorang pemudi (wanita) untuk menjadikan pasangannya dan sebaliknya pada tanggal tersebut. Bersamaan dengan itu, mereka menyarankan untuk saling tukar tanda mata atau cadeau (kado) sebagai lambang terbinanya kasih sayang di antara mereka. Namun, Valentine ini lebih dipopularkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I.
Valentine ini lebih dipopularkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I.
Hukum Merayakan Valentine's Day
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikiran. Apalagi, bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syiar dan kebiasaan. Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya, "Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR At-Tirmizi).
Abu Waqid meriwayatkan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat keluar menuju Perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, 'Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.' Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian'." (HR At-Tirmizi, ia berkata, hasan sahih).
Berkasih-sayang versi valentinan ini haruslah diketahui terlebih dahulu hukumnya, lalu diputuskan apakah akan dilaksanakan atau ditinggalkan. Dengan melihat dan memahami asal-usul serta fakta pelaksanaan Valentine's Day, sebenarnya perayaan ini tidak ada sangkut pautnya sedikit pun dengan corak hidup seorang muslim. Tradisi tanpa dasar ini lahir dan berkembang dari segolongan manusia (kaum/bangsa) yang hidup dengan corak yang sangat jauh berbeda dengan corak hidup berdasarkan syariat Islam yang agung.
Sangat jelas bahwa Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya. Kita dilarang menyerupai budaya yang lahir dari peradaban kaum kafir, yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah Islam. Sungguh, ikut merayakan hari valentin adalah tindakan haram dan tercela.
Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, "Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya" dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid'ah, atau kekufuran. Padahal, dengan itu ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
. . . Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram . . . .
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine's Day mengatakan, "Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena alasan berikut. Pertama, ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat Islam. Kedua, ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf saleh (pendahulu kita)--semoga Allah meridhai mereka. Maka, tidak halal melakukan ritual hari raya mereka, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah, ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup) yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan semoga meliputi kita semua dengan bimbinga-Nya."
Mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 51).
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-Mujadilah: 22)
Mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam surga yang hamparannya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadis Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya, "Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, saling berkorban karena Aku, dan yang saling mengunjungi karena Aku." (HR Ahmad). Wallahu a'lam.
Sumber:
1. The standart International Dictionary, jilid 18 halaman 5090. The Encyclopedia Americana, jilid 27 halaman 859. (dari www.isnet.org/archive-milis/archive99).
2. Valentine's Day Bukan Ajaran Islam, Drs. Nur'i Yakin Mch, SH, M.Hum.
3. www.alsofwah.or.id
4. www.hidayatullah.com
[PurWD/voa-islam.com]
Monday, February 7, 2011
Kisah Rasulullah SAW dan Yahudi Pencuri
Kisah Rasulullah SAW dan Pengemis Yahudi Buta
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a
Makna/Maksud Bacaan Dalam Solat.
Doa Iftitah
Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah dengan banyaknya.
Maha suci Allah sepanjang pagi dan petang.
Aku hadapkan wajahku bagi Tuhan yang mencipta langit dan bumi,
dengan suasana lurus dan berserah diri dan aku bukan dari golongan orang musyrik.
Sesungguhnya solatku,
Ibadatku,
hidupku,
matiku
adalah untuk Allah Tuhan sekelian alam.
Tidak ada sekutu bagiNya dan kepadaku diperintahkan untuk tidak
menyekutukan bagiNya dan aku dari golongan orang Islam.
Al-Fatihah
Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Mengasihani.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Yang maha pemurah lagi maha mengasihani.
Yang menguasai hari pembalasan.
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Iaitu jalan orang-orang yang Engkau kurniakan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan jalan mereka yang sesat.
Bacaan ketika rukuk
Maha Suci TuhanKu Yang Maha Mulia dan dengan segala puji-pujiannya.
Bacaan ketika bangun dari rukuk
Allah mendengar pujian orang yang memujinya.
Bacaan ketika iktidal
Wahai Tuhan kami, bagi Engkaulah segala pujian.
Bacaan ketika sujud
Maha suci TuhanKu yang Maha Tinggi dan dengan segala puji-pujiannya.
Bacaan ketika duduk di antara dua sujud
Ya Allah, ampunilah daku,
Rahmatilah daku,
kayakan daku,
angkatlah darjatku,
rezekikan daku,
berilah aku hidayah,
sihatkanlah daku dan
maafkanlah akan daku
Bacaan ketika Tahiyat Awal
Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah.
Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta
keberkatannya.
Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh.
Aku naik saksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku naik saksi bahawasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah.
Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad.
Bacaan ketika Tahiyat Akhir
Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah.
Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya.
Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh.
Aku naik saksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku naik saksi bahawasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah..
Ya Tuhan kami, selawatkanlah ke atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya.
Sebagaimana Engkau selawatkan ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim.
Berkatilah ke atas Muhammad dan atas keluarganya sebagaimana Engkau berkati ke atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim di dalam alam ini.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.
Doa Qunut
Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau tunjuki.
Sejahterakanlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau sejahterakan.
Pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin.
Berkatilah hendaknya untukku apa-pa yang telah Engkau berikan padaku.
Jauhkanlah aku daripada segala kejahatan yang telah Engkau tetapkan.
Sesungguhnya hanya Engkau sahajalah yang menetapkan, dan tidak sesiapapun yang berkuasa menetapkan sesuatu selain daripada Engkau.
Sesungguhnya tidak terhina orang yang memperolehi pimpinanMu.
Dan tidak mulia orang-orang yang Engkau musuhi.
Telah memberi berkat Engkau, ya Tuhan kami dan maha tinggi Engkau.
Hanya untuk Engkau sahajalah segala macam puji terhadap apa-apa yang telah Engkau tetapkan.
Dan aku minta ampun dan bertaubat kepada Engkau.
Dan Allah rahmatilah Muhammad, Nabi yang ummi dan sejahtera keatas keluarganya dan sahabat-sahabatnya.
“wahai tuhan ku,aku tak layakutk kesyurgamu …namun tak pula aku sanggup
keNerakamu.. ..kami lah hamba yang mengharap belaskasihan darimu .”ya allah
jadikan lah kami hamba2 mu yang bertaqwa..ampunkan dosa2 kami .kedua
ibubapa kami .dosa semua umat2 islam yang masih hidup mahupun yang telah meninggal
dunia”
Sunday, February 6, 2011
ALLAH ITU MAHA ESA! TIDAK MENJELMA SEBAGAI MANUSIA

Saya mengambil masa yang agak lama untuk mengulas isu ini. Betul, ia sekadar isu penggunaan nama 'Allah' oleh penganut Kristian yang boleh dianggap kecil, tetapi ia sebenarnya membawa kesan yang besar dan pelbagai.
Pendapat demi pendapat diberikan, ditulis, dibahaskan dan menjadi polemik. Bantahan dibuat oleh masyarakat Islam. Ada yang berucap berapi-api seolah-olah dialah pembela Allah dan pembela agama Allah selama ini, sedangkan hakikatnya, terlalu banyak perintah Allah yang terkandung dalam al-Quran disimpan elok-elok sahaja dalam mashaf al-Quran, dimuliakan, tetapi tidak dilaksanakan dalam kehidupan. Perundangan syariah diguna pakai sebahagian dan dipekasamkan sebahagian lagi. Perjuangan pula tidak jelas meletakkan Islam sebagai dasar.
Di suatu pihak yang lain, ada juga umat Islam yang memandang isu ini dari sisi dakwah. Mereka berpandangan tiada salahnya orang bukan Islam menggunakan nama Allah sebagai tuhan mereka, sementelahan yang menggunakannya pula penganut agama samawi (langit). Agama samawi iaitu Islam, Yahudi dan Nasrani (Kristian) berasal daripada Allah yang Maha Esa. Bagaimanapun, umat Yahudi dan Kristian menyeleweng dari jalan yang benar. Yahudi menganggap Uzair sebagai anak Tuhan manakala Nasrani menganggap Isa sebagai anak Tuhan. Kristian percaya kepada konsep triniti iaitu tuhan tiga dalam satu dan satu dalam tiga - Allah, Isa dan roh yang suci (Jibril?). Walau apa pun hujahnya, kedua-dua agama ini telah sesat kerana menyekutukan Allah.
Mengambil kira pandangan kedua-dua pihak, yang menentang dan juga menyokong penggunaan kalimah Allah oleh orang Kristian itu, mari kita cuba halusi perkara ini.
Isu ini bermula apabila KDN memberi kebenaran kepada akhbar tabloid The Herald: Catholic Weekly untuk diterbitkan pada tahun 2009 dengan syarat penulisannya tidak menggunakan kalimah Allah dan pengedarannya dihadkan kepada penganut Kristian sahaja.Penerbit The Herald: Catholic Weekly mencabar arahan KDN tersebut di mahkamah. Pada 31 Disember 2009, Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur memutuskan arahan KDN terbatal (null and void) dan turut membenarkan kalimah Allah digunakan oleh The Herald, dan kalimah Allah tidak juga eksklusif untuk Islam sahaja. Keputusan ini dirayu dan pelaksanaannya ditangguhkan.
Antara ulasan yang menarik perhatian saya dalam isu ini ialah pendapat yang dikemukakan oleh bekas Profesor Madya Fakulti Syariah, Akademi Islam, Universiti Malaya, Ustaz Alias Othman. Menurutnya, nama Allah memang telah digunakan lama sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Bagaimanapun, penggunaannya sebelum dan selepas kedatangan Islam tidak menimbulkan masalah kepada orang-orang Arab. Budaya setempatnya begitu. Tetapi di Malaysia, nama Allah telah digunakan oleh orang Islam untuk merujuk kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebarang percubaan untuk mengaitkannya dengan fahaman ketuhanan lain, sebagaimana fahaman Kristian misalnya, hanya akan menimbulkan kemudaratan kepada kedua-dua pihak. Jadi, lebih baiklah penggunaannya dihalang kerana menolak yang mudarat itu lebih utama.
Benarkah penganut Kristian merujuk kalimah Allah sebagai nama tuhan mereka? Pensyarah di Jabatan Akidah dan Pemikiran Islam, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Profesor Madya Dr Khadijah Mohd Hambali, dalam satu tulisannya mengatakan bahawa jika ajukan soalan ini kepada sesiapa sahaja dalam kalangan penganut Kristian termasuk para paderi, nescaya pelbagai jawapan akan terpacul dari mulut mereka. Sebahagian daripada mereka akan merujuk kepada Jesus atau Yesus (Indonesia) sebagai tuhan, sebahagian lagi merujuk kepada Jeremiah manakala segolongan lagi merujuk kepada Allah. Terdapat juga penganut Kristian yang merujuk kepada Yahweh, Yehuwa, Yahova atau Jehovah. Ini kerana tidak terdapat satu pun istilah yang menepati dan merujuk kepada tuhan dalam Bible penganut Kristian. Bible mereka yang terlalu kerap disunting tidak memaparkan nama tuhan yang wajar disebut dalam ritual keagamaan Kristian.
Justeru, untuk mengelakkan kesukaran dan kekeliruan, penganut Kristian mengambil keputusan untuk meminjam nama Tuhan yang sering digunakan oleh masyarakat setempat. Sebagai contoh yang diperakui sendiri oleh para pemimpin Kristian Malaysia, antaranya Joseph Masilamany yang mengemukakan pendapat bahawa “penggunaan perkataan 'Allah' untuk merujuk kepada Tuhan dalam kalangan penganut agama Kristian telah diamalkan dengan meluas untuk beberapa generasi di banyak negara dan bukan bertujuan menyinggung perasaan atau mengelirukan masyarakat Islam.”
Ada udang di sebalik batu? Kelihatannya begitulah. Lagipun yang sibuk-sibuk hendak digunakan perkataan 'Allah' itu adalah penulisan-penulisan mereka dalam bahasa Melayu. Penulisan dalam bahasa Inggeris masih mengekalkan kata 'God' dan 'Lord'.
Benark
ah Allah di hati mereka? Ketika kita hangat membahaskan isu ini di Malaysia, tiba-tiba pada Selasa, 12 Januari yang lepas, dunia dikejutkan dengan gempa bumi besar bermagnitud 7.0 di Haiti yang diberitakan telah mengorbankan lebih 100,000 nyawa. Pada detik-detik awal bumi Port-au-Prince, ibu kota Haiti bergegar, penduduk yang majoritinya beragama Kristian lari bertempiaran sambil menjerit "Jesus, Jesus!" Jeritan ini spontan, dalam keadaan kelam kabut dan di bawah sedar. Yang keluar dari mulut mereka adalah nama 'Jesus' bukannya 'Allah'. Kita faham nama Jesus paling kerap dirujuk oleh penganut Kristian sebagai tuhan, sebab itulah Jesus yang diseru. Tetapi apabila mereka berkeras hendak menggunakan nama Allah juga, kita tidak boleh mengelak daripada menghidu bahawa mereka memang punya agenda tersembunyi.
Bagaimanapun, janganlah kita terlupa bahawa isu ini membuka peluang yang besar kepada umat Islam untuk lebih aktif berdakwah kepada mereka yang belum Islam. Kalau mereka mengatakan bahawa mereka pun percayakan Allah, kita katakan bahawa terdapat perbezaan yang sangat besar antara percaya dengan beriman kepada Allah, bahawa mereka mesti kembali kepada jalan asal yang benar iaitu Allah Maha Esa, tidak beranak dan tidak pula diberanakkan. Inilah peluang kita untuk menerangkan kepada mereka tentang Allah dan Islam. Jangan risau kita tidak mampu melakukan dakwah ini. Islam adalah agama yang benar dan Islam pasti menang dengan bantuan Allah. Yang penting bagi umat Islam adalah mengatur strategi berkesan, berusaha, berdoa dan bergerak dalam satu saf.
Namun, dalam masa kita berusaha untuk berdakwah kepada golongan ini, jangan lupa bahawa mereka juga sentiasa berusaha tanpa henti untuk menyesatkan umat Islam menerusi dakyah mereka. Dulu saya juga berfikir apa salahnya mereka menggunakan nama Allah? Bukankah Allah Tuhan semua makhluk? Apa hak kita untuk menghalang mereka? Kenapa kita seolah-olah tidak membenarkan mereka mengakui Allah, bahkan seolah-olah mahu mereka kekal dalam kesesatan mereka? Begitulah soalan-soalan yang bermain di fikiran, sampailah satu hari saya terbaca e-mel seorang sahabat yang pernah tinggal dan belajar di sebuah negara jiran selama lebih lima tahun, menceritakan beberapa peristiwa yang lucu tetapi sangat serius.
Pengalaman ini beliau kongsikan supaya orang ramai boleh mengetahui dan membayangkan implikasinya jika penggunaan nama Allah oleh orang bukan Islam dibiarkan. Suatu hari sahabat ini menonton sebuah program ceramah di televisyen. Beliau sangkakan ia ceramah agama biasa kerana dengan semangat yang berkobar-kobar, si penceramah berkata, "Kita semua sudah berdosa! Allah Maha Kuasa! Allah Maha Penyayang! Kembalilah kita semua ke jalan Allah!" Di dalam hati, sahabat tadi mengucap syukur, alhamdulillah... bagus. Tiba-tiba penceramah menyambung "Kembalilah kepada Yesus Kristus dan Bunda Maryam!" Laa... ceramah Kristian rupanya.
Dalam surat khabar, biasanya ada ruangan untuk mengucapkan kata-kata takziah dan doa untuk orang yang telah meninggal dunia. Disebutkan, "Telah Kembali ke Rahmat Allah, Sdr ... pada ... Semoga roh beliau dicucuri rahmat Allah" Tetapi apabila diperhatikan, nama-nama mereka yang mati itu adalah Eduardus, Kristus, Paulus dan sebagainya (nama orang Kristian). Ada pula gambar salib diikuti tulisan kecil "ash to ash, dust to dust, fade to black".
Suatu hari sewaktu sedang bermusafir dan mencari masjid untuk solat, beliau ternampak sebuah papan tanda yang memaparkan kalimah Allah dalam bahasa Arab. Di sisinya ada sebuah sepanduk berbunyi, "Ayuh, kerjakan kewajipan kita kepada Allah dan agamanya!" Apabila beliau menyusuri jalan mengikut arah yang ditunjukkan, beliau terkejut melihat bangunan yang dimaksudkan mempunyai patung Jesus disalib. Gereja Kristian rupanya!
Jika berhasrat hendak membeli buku agama juga, kita harus berhati-hati. Sahabat tadi pernah membelek sebuah buku yang tajuknya lebih kurang begini, "Memantapkan Iman Anda kepada Allah". Apabila beliau menyelak helaian demi helaian, beliau mula keliru kerana ayat-ayat dan hadisnya tidak seperti biasa. Direnung-renung balik, rupa-rupanya ayat-ayat tersebut dikutip dari Bible! Ah, buku dakwah Kristian rupanya!
Seperkara lagi, di tengah-tengah sebuah bandar, terdapat sebuah geraja yang dinamakan "Rumah Allah". Ada pula gereja yang mempamerkan kata-kata dengan tulisan besar, "ALLAH ITU KASIH". Dan kita percaya banyak lagi 'benda' yang boleh menimbulkan kekeliruan yang menggunakan nama Allah di sana. Bagaimana kalau perkara seperti ini berlaku di Malaysia? Apa bentengnya untuk anak-anak kita dan untuk orang dewasa juga, dalam keadaan iman kita senipis kulit bawang?
Kita mesti faham bahawa Tuhan untuk semua manusia baik Islam, Kristian, Yahudi, Buddha mahupun Hindu, bahkan untuk semua makhluk sememangnya Allah, tidak ada yang lain. Allah yang menjadikan alam ini.Tetapi apabila menyentuh soal iman, keimanan orang Islam terhadap Allah berbeza dengan orang Kristian atau Yahudi. Mereka tidak ada iman pun terhadap Allah. Kalau mereka beriman, sudah lama mereka menjadi Muslim.Orang Islam tidak menyembah Allah seperti mana orang Kristian kononnya mempertuhankan Allah, dan begitu pula yang sebaliknya. Sebab itu Allah menyuruh kita menegaskan kepada orang-orang kafir, "Untuk kamu agama kamu dan untukku agamaku."
Saya sangat menyokong usaha sebuah stesen radio Islam akhir-akhir ini yang setiap hari berulang kali menyiarkan bacaan ayat-ayat al-Quran surah al-Ikhlas dan al-Kafirun serta terjemahannya. Surah-surah ini menyegarkan kembali pegangan kita bahawa Allah itu Maha Esa, tiada dua atau tiganya, Maha Suci Dia daripada beranak atau diperanakkan dan Allah selama-lamanya tidak boleh disamakan dengan apa jua makhluk.
Walau apa pun perkembangannya, sikap umat Islam dalam menghadapi kemelut ini mestilah betul. Jangan membantah dan berdemonstrasi berdasarkan emosi semata-mata. Kita menentang penggunaan nama Allah oleh bukan Islam ini kerana bimbang nama yang mulia itu akan diperhina dan disekutukan sewenang-wenangnya. Tetapi kita juga menegaskan bahawa umat Islam bukan sekadar mempertahankan nama Allah, tetapi mempertahankan hak agama dan syariat Allah agar ia dilaksanakan sepenuhnya di atas muka bumi sebagaimana yang dikehendaki oleh pemilik nama Allah itu!